Senin, 31 Januari 2011

menghitung hasil jabon per hektar

Dalam mengitung jumlah kubikasi kayu jabon per hektar pertama kita perlu menghitung jumlah kubikasi per pohon berdasarkan keliling lingkaran pohon.
Contohnya pohon jabon dengan lingkaran  80 cm dan tinggi batang utama  9 meter
Hitungan sederhananya keliling lingkaran kita ambil 1,2 meter dari atas permukaan tanah dengan rumus sebagai berikut :
Kita hitung diameter rumusnya keliling dibagi phi ( 3,14 )= ( 80 cm : 3,14 ) = 25 cm
( 25 : 80 ) : 2 = 0,15625
(0,15625x0,15625 ) x 3,14 x 9 = 0,6 m3

Jadi dalam satu pohon berdiameter 25 cm dan tinggi batang utama 9 meter akan menghasilkan kayu 0,6 m3,nilai ini bisa lebih atau turun tergantung ketinggian batang utama. Andaikan diameter lebih besar tentu akan lebih tinggi atau kalau lebih kecil juga akan lebih sedikit.
Kalau dalam satu ha terdapat 1000 pohon kita tinggal mengalikan 1000 x 0,6 = 600m3,biasanya dalam 1 ha yang bagus dengan perawatan standar sekitar 70 persennya. jadi hitungannya 70% x 600 m3 =  420 m3.
coba dikalikan dengan misal per m3 untuk ukuran diameter 25 cm harga dipabrik sekitar 600 an ribu maka akan menghasilkan sekitar 420 x 600 ribu = 252 juta. kalau biasanya beaya tebang  dan angkut sekitar 25 persen dari harga tegakan berdiri maka hasil bersih per hektar dengan populasi 1000 pohon berdiameter rata rata 25 cm adalah =  252 juta- ( 25% x 252jt= 63 juta ) = 189 juta.angka  ini  bisa lebih atau kurang,tetapi biasanya variabelnya tidak akan lebih dari 50 persen.
kalau dari analisa saya diatas ada yang kurang betul saya mohon masukan dari rekan rekan semua yang lebih berpengalaman.
terimakasih


9 komentar:

  1. Jadi menurut anda pernyataan ini tidak benar sepenuhnya.
    Link :
    http://www.detikfinance.com/read/2011/02/21/103200/1574859/480/memetik-uang-dari-investasi-pohon-jabon

    BalasHapus
  2. itu itungan minimal...
    http://www.detikfinance.com/read/2011/02/21/103200/1574859/480/memetik-uang-dari-investasi-pohon-jabon

    LOGIKA di situs ini menurut saya benar juga,sbgaimana logika yang dipakai diatas...

    BalasHapus
  3. Yang ini keliatannya pengusaha ini lebih bermimpi lagi,link : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=404541830875&set=a.404541590875.186136.59077410875

    BalasHapus
  4. Kita hitung diameter rumusnya keliling dibagi phi ( 3,14 )=(80 cm :3,14)= 25cm => Diameter
    (25 : 80): 2 =0,15625
    (0,15625x0,15625)x 3,14x 9=0,6 m3 =>perBatang

    Ada yg kurang berkenan dgn hitungan diatas. Coba kita gantikan keliling 157cm

    (157cm : 3,14) = 50cm => Diameter
    (50:157) : 2 = 0,15923
    (0,15923x0,15923)x 3,14x 9=0,71m3 =>perBatang

    Apakah benar jika pohon yang berdiameter 50cm, jika ditotal satu batang dgn panjang 9m, hanya dapat = 0,71 m3.........
    Sepanjang yg saya lihat dilapangan, dgn diameter 50cm dan pjg 9m bisa didapat 2m3 (dua meter kubik)...... Dan kenapa harus disisakan 1,2m dr tanah? bukannya 15-20cm yang disisakan? Apakah hitungan saya salah pak. Mohon dikoreksi jika saya salah....

    BalasHapus
  5. Cara menghitung volume silinder mestinya luas penampang X tinggi batang dan cara menghitung
    luas penampang : 3,14 X r X r (r = 1/2 diameter)
    jadi misalnya pohon dengan diameter 25 cm dan tinggi 9 M maka: r = 12,5 cm = 0,125 M
    luas penampang : 3,14 X 0,125 X 0,125 = 0,049 M2
    Volume : 0,049 X 9 = 0,442 M3

    BalasHapus
  6. terimakasih atas koreksi teman teman,,semoga krityik maupun saran akan membuat kita lebih baik,terimakasih

    BalasHapus
  7. bosss low beli bibit nya berapa tuhh

    BalasHapus
  8. Cara matematis penetapan isi kayu bundar dengan pendekatan isi silinder (luas bidang dasar x tinggi/panjang). Untuk itu perlu data hasil pengukuran panjang dan diameter/keliling kayu bundar. Cara matematis ini terdiri dari beberapa rumus, yaitu :

    Rumus Huber

    Huber beranggapan bahwa bidang tengah mewakili diameter kayu, pengukuran diameternya dilakukan hanya pada bidang tengah, sehingga rumusnya adalah sebagai berikut :

    Vh = Bt x p

    Keterangan :

    Vh = Isi kayu bundar menurut Huber
    Bt = Luas bidang dasar penampang tengah
    p = Panjang



    Rumus Smallian

    Dasarnya sama dengan Huber, akan tetapi untuk mencari luas bidang dasar tengahnya dengan merata-ratakan luas bidang dasar bontos pangkal dan luas bidang dasar bontos ujung, sehingga pengukuran diameternya dilakukan pada bontos pangkal dan bontos ujung, maka rumusnya menjadi sebagai berikut :

    Vs = ½ (Bp + Bu) x p

    Keterangan :

    Vs = Isi menurut Smallian
    Bp = Luas bidang dasar bontos pangkal
    Bu = Luas bidang dasar bontos ujung
    p = Panjang

    Rumus Smallian ini digunakan di Indonesia untuk menetapkan Isi kayu bundar Jati. Akan tetapi pengukuran diameternya hanya dilakukan pada bontos ujung, sedangkan diameter bontos pangkalnya diduga oleh diameter bontos ujung. Karena hasil pendugaan diameter bontos pangkal (hasil penelitian) sangat dipengaruhi oleh panjang kayu, maka rumusnya akan sangat bervariasi sesuai dengan kelas panjangnya. Sehingga di lapangan untuk menetapkan isi kayu Jati tidak dapat langsung menggunakan rumus, melainkan dengan menggunakan Tabel Isi Kayu Bundar Jati (SNI : 01-5007.17-2001)



    Rumus Newton

    Merupakan kombinasi antara Huber dan Smallian, sehingga rumusnya adalah sebagai berikut :

    Bp + 4Bt
    Vn = ------------------ x p
    6

    Keterangan:

    Vn = Isi menurut Newton

    Bp = Luas bidang dasar bontos pangkal

    Bu = Luas bidang dasar bontos ujung

    Bt = Luas bidang dasar penampang tengah

    p = Panjang



    Rumus Brereton

    Dasarnya sama demgan tiga rumus di atas, hanya bedanya dalam menghitung luas bidang dasar tengah, terlebih dahulu dicari diameter rata-rata antara diameter bontos pangkal dengan diameter bontos ujung, sehingga rumusnya adalah sebagai berikut ;

    dp + du
    Vb = ¼p ( -----------)2 x p
    2

    Keterangan :

    Vb = Isi menurut Brereton
    dp = diameter bontos pangkal
    du = diameter bontos ujung
    p = Panjang

    Rumus ini digunakan di Indonesia dalam menetapkan isi kayu bundar rimba dan telah disederhanakan menjadi :

    0,7854 x d2 x p
    I = --------------------
    10.000

    Keterangan :

    I = Isi kayu bundar rimba dalam “m3”
    0,7854 = ¼p
    d = Diameter kayu dalam “cm” (rata-rata dp dan du)
    p = Panjang kayu dalam “m”
    10.000 = Konversi dari satuan “cm” menjadi “m” pada pengukuran diameter

    Penetapan isi kayu bundar rimba ini dalam pelaksa-naannya di lapangan dapat langsung menggunakan rumus tersebut diatas atau dengan tabel isi. Khusus kayu bundar rimba produk Perhutani, kasusnya sama dengan kayu bundar Jati, pengukuran diameter dilakukan hanya di bontos ujung (du). Pendugaan diameter rata-rata oleh du digunakan 4 (empat) kelas panjang, yaitu kelas panjang 1,00 m–1,50 m, 1,60 m–3,00 m, 3,10 m–3,10 m dan 4,10 m–5,00 m. Dengan demikian rumus penetapan isinya juga sesuai dengan kelas panjang tersebut, sehingga penetapan isi di lapangan lebih praktis menggunakan tabel isi. Contoh rumus isi kelas panjang 1,00 m–1,50 m :

    0,7854 x (1,0134 du + 0,3537)2 x p
    I = ------------------------------------------------
    10.000

    BalasHapus
  9. Tabel isi kayu bundar rimba secara umum (Tabel A) dan kayu bundar rimba Perhutani (Tabel B) dapat dilihat dalam Tabel Isi Kayu Bundar Rimba (SNI : 01-5007.2-2000).

    Penetapkan Isi Kayu Bundar di Indonesia

    Seperti diuraikan diatas bahwa penetapan isi yang digunakan di Indonesia adalah cara matematis (Smallian dan Brereton), yang memerlukan data hasil pengukuran panjang dan diameter. Cara pengukuran panjang dan diameter kayu bundar adalah sebagai berikut :

    Pengukuran Panjang (p)

    Panjang ditetapkan dengan cara mengukur jarak terpendek antara kedua bontos sejajar sumbu kayu dengan kelipatan 10 cm.

    Khusus untuk panjang kayu bundar rimba (Tabel A) kecuali kayu mewah diberi spilasi 10 cm, lihat Tabel :

    Panjang hasil pengukuran dengan kelipatan 10 cm


    Panjang kayu bundar (p)

    Untuk
    Tabel A


    Untuk Tabel B, Kayu mewah dan kayu Jati

    6,50 m


    6,40 m


    6,50 m

    4.00 m


    3,90 m


    4,00 m

    2,10 m


    2,00 m


    2,10 m

    Pengukuran Diameter (d)

    Untuk kayu bundar rimba Tabel A, pengukuran diameter dilakukan terhadap bontos ujung (du) dan bontos pangkal (dp) kemudian di rata-ratakan, dp dan du didapat dari hasil rata-rata pengukuran diameter terpendek dan diameter terpanjang. Sedangkan pada SNI 01-0187-1987, yang pada saat ini masih digunakan, dp dan du didapat dari hasil rata-rata pengukuran diameter terpendek dan diameter tegak lurus terpendek.

    Untuk kayu bundar rimba Tabel B, pengukuran diameter hanya dilakukan pada bontos ujung (du), yang didapat dari hasil rata-rata pengukuran diameter terpendek dan diameter terpanjang.

    Untuk kayu bundar Jati pengukuran diameter dilakukan pada bontos ujung dengan menggunakan pita phi (phi band).

    Penetapan Isi dan Cacat Kayu yang Mengurangi Isi

    Untuk kayu bundar yang menggunakan Tabel A, apabila mengandung cacat yang dapat meredusir/mengurangi isi seperti gubal busuk dan teras busuk/gerowong, maka Isi kayu bundarnya dikurangi dengan isi cacat tersebut. Sedangkan untuk kayu bundar lainya cacat tersebut tidak mempengaruhi isi. Cara mengukur dan mencari isi cacat yang meredusir, lihat SNI : 01-5007.2-2000.

    BalasHapus

Berikan KOMENTAR POSITIF !!! Ada yang bagus dengan artikel diatas? Atau anda punya opini sendiri? Atau mungkin ada pertanyaan yang mengganjal dalam pikiran anda? Berikanlah sebutir kata dan komentar.Karena ilmu itu harus digali dan di bagi kepada sesama. Oleh karena itu utarakan semua yang ada dibenak anda. Jangan hanya
diam dan terpaku.
BLOG INI DO FOLLOW